Generasi Z Cipayung Saling Dorong ke Elite Dunia

Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu membubuhkan tanda tangan pada foto yang dibawa penggemar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (Djarum Badminton)
Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu membubuhkan tanda tangan pada foto yang dibawa penggemar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (Djarum Badminton)
Internasional ‐ Created by EL

Jakarta | Dalam beberapa pekan terakhir, generasi muda pebulu tangkis Indonesia menunjukkan perkembangan yang menjanjikan di level dunia. Selain tunggal putri Putri Kusuma Wardani yang telah lebih dulu menembus jajaran elite, lima pebulu tangkis dari kelompok Generasi Z mampu menembus 10 besar peringkat dunia, yaitu Alwi Farhan, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, serta Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu.

Di antara nama-nama tersebut, Jafar/Felisha menjadi yang pertama menembus 10 besar dunia. Mereka mencapai tonggak tersebut pada pekan ke-48 musim 2025 setelah melaju hingga final Australian Badminton Open 2025. Tambahan 7.800 poin dari Sydney mengantarkan mereka mengoleksi 63.810 poin dan menembus kelompok elite ganda campuran dunia. Jafar lahir di Tangerang, Banten, pada 9 Januari 2003, sementara Felisha lahir di Jakarta pada 11 September 2005.

Jejak Jafar/Felisha kemudian diikuti Raymond/Joaquin di sektor ganda putra. Pada pekan ke-24 musim 2026, pasangan berusia 22 dan 20 tahun tersebut masuk 10 besar dunia setelah tampil sebagai runner-up Polytron Indonesia Open 2026.

Tak lama berselang, Alwi turut bergabung dalam daftar tersebut. Atlet tunggal putra yang genap berusia 21 tahun pada 12 Mei lalu itu naik tiga tingkat ke posisi 10 besar dunia berkat keberhasilannya menjuarai Australian Badminton Open 2026 di Sydney. 

Menariknya, keberhasilan Raymond/Joaquin dan Jafar/Felisha menjadi motivasi tersendiri bagi Alwi. Ia mengaku terpacu untuk mengikuti jejak rekan-rekan sepantarannya di pelatnas PBSI yang lebih dulu menembus kelompok elite dunia, hingga akhirnya berhasil mewujudkan target tersebut.

"Pastinya senang ketika melihat Joaquin dan Raymond. Wah, saya merinding dan saya merasakan bangga yang luar biasa pada teman saya sendiri. Even mereka baru satu tahun atau satu tahun setengan berpasangan, tetapi mereka sudah bisa berada di top 10," tanggap Alwi, saat ditemui di pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, pada pertengahan pekan ini.

Atlet kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah itu menyatakan, selama tampil di Australian Badminton Open 2026, ia terus memantau perolehan poin peringkat dunia dan menghitung target yang harus dicapai untuk menembus 10 besar dunia. Menurutnya, target mencapai final bahkan merebut gelar juara menjadi krusial untuk menembus sekaligus mempertahankan posisinya di jajaran 10 besar dunia. Pasalnya, ia tidak akan memperoleh tambahan poin pada pekan berikutnya karena absen dari Macau Open 2026, sehingga harus mengantisipasi berkurangnya poin peringkat yang dimilikinya.

"Saya harus juara! Nggak ada pilihan lain, selain juara, kan. Jadi itu target saya, karena saya pengin banget juga bisa menyusul Raymond/Joaquin, dan Jafar/Felis juga. Which is bagus karena kita push each other, gitu. Jadi Alhamdulillah pastinya seneng satu langkah menuju langkah yang lain," demikian Alwi.