Kepada wartawan di pelatnas PBSI, Rabu (1/4), Joaquin mengungkapkan kesannya saat tampil di turnamen dengan karpet lapangan berwarna abu-abu. Ia menilai, warna tersebut memberikan kenyamanan visual karena tidak terlalu menyilaukan, dibandingkan karpet hijau yang umum digunakan dalam turnamen BWF World Tour. "Kalau abu-abu beda, ada aura tersendiri. Senang banget, sih, mencoba karpet abu-abu, jadi berharap tahun depan main lagi," katanya.
Di sisi lain, lanjut Joaquin, All England Open 2026 menjadi ajang penting bagi mereka, mengingat statusnya sebagai turnamen bergengsi sekaligus penampilan perdana mereka. Mereka pun termotivasi untuk tampil maksimal, dengan performa yang dinilai cukup baik sepanjang keikutsertaan di turnamen tersebut. "Cuma, memang selanjutnya itu kita harus lebih konsisten," tuturnya.
"Memang, kan, hasilnya nggak sesuai prediksi untuk orang-orang. Jadi itu jadi bahan evaluasi kita buat supaya selalu fokus di mana pun kita bertanding," Joaquin, menambahkan.
Sementara itu, Raymond menilai penampilan mereka cukup maksimal di Birmingham, Inggris. Namun, ketika mereka menjalani dua turnamen berikutnya di Swiss dan Prancis yang termasuk dalam rangkaian tur Eropa, ada masalah lain muncul. "Tapi pas di Swiss sama Orléans mungkin fokus sudah turun, dan juga ada terganggung sama sakitnya Joaquin pada telapak (kapalan)," ungkapnya.
Kapalan atau penebalan pada telapak kaki Joaquin sudah dirasakan saat mereka berlaga di All England 2026, tetapi rasa sakit belum muncul. Namun, saat melanjutkan ke Swiss Open 2026, kondisi tersebut semakin memburuk hingga akhirnya menimbulkan rasa nyeri. "Terus besoknya di dalam kapalannya itu ada bulatan merah. Ternyata itu radang. Saya jalan aja udah sakit banget," tutur Joaquin.
"Jadi di Swiss saya sudah berusaha untuk nggak mikirin, cuma kok kepikiran terus jadinya fokusnya terbagi. Fokusnya sudah turun terus, belum lagi tambah main, kan, jadinya fokusnya kebagi-bagi," tambahnya.
Joaquin menilai, hasil yang diraih tidak maksimal karena gagal memanfaatkan peluang dengan baik. "Itu salah satu evaluasinya, ya, mulai dari kondisi, bagaimana cara kita menjaganya dan juga fokusnya supaya tetap siap walaupun tiga turnamen beruntun," pungkasnya.


