Thomas Cup 2026 - Peran Krusial Anthony Sinisuka Ginting

Nikolaus Joaquin, Alwi Farhan, & Anthony Sinisuka Ginting (Humas PP PBSI)
Nikolaus Joaquin, Alwi Farhan, & Anthony Sinisuka Ginting (Humas PP PBSI)
Internasional ‐ Created by EL

Jakarta | Setelah beberapa bulan absen dari arena pertandingan dan baru pulih dari cedera bahu serta punggung, Anthony Sinisuka Ginting kini menempati posisi berbeda dalam skuad Indonesia yang memburu gelar Piala Thomas 2026. Jika sebelumnya kerap menjadi andalan di tunggal pertama atau kedua, kali ini Anthony berada sebagai pemain dengan peringkat keempat tertinggi, di bawah Jonatan Christie, Alwi Farhan, dan Moh. Zaki Ubaidillah (Ubed).

Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) melalui situsnya pada Kamis (23/4) menyebutkan, dengan ketiganya menunjukkan performa konsisten dalam beberapa bulan terakhir, sementara Anthony baru tampil di tiga turnamen musim ini, peluang untuk menurunkannya masih menjadi tanda tanya yang bergantung pada berbagai pertimbangan tim. Namun, juara Asia 2024 ini menegaskan dirinya dalam kondisi bugar dan cukup puas dengan performa yang ditunjukkan sejauh ini.

"Kondisi saya sekarang benar-benar baik. Maksud saya, tidak ada cedera sama sekali. Saya perlu menjaga kondisi tubuh dengan sangat baik, lebih baik dari sebelumnya, tetapi untuk saat ini, untuk Piala Thomas, saya merasa sangat baik," tuturnya, dilansir laman BWF.

Meski minim jam terbang dalam satu tahun terakhir, faktor pengalaman menjadi nilai lebih bagi atlet berusia 29 tahun ini. Dalam komposisi tim, tunggal ketiga kerap menjadi penentu di momen-momen krusial, khususnya pada fase gugur, sehingga tak hanya dituntut tampil solid secara teknis, tetapi juga memiliki ketahanan mental di bawah tekanan tinggi.

Ia menegaskan telah mempersiapkan diri untuk mengemban peran tersebut. "Persiapan utamanya adalah mental. Di lapangan, tidak ada yang berbeda. Selama pertandingan sebelumnya dan di lapangan, (kondisi mental) sangat penting. Karena dalam hal pukulan dan segalanya, semuanya sama, tetapi cara kita berpikir akan berbeda," jelasnya

Di sisi lain, lanjut Anthony, kunci persiapannya terletak pada kemampuan menjaga ketenangan dan tidak larut dalam tekanan. Menurutnya, terlalu banyak berpikir justru dapat menimbulkan kekhawatiran, sehingga respons di lapangan harus muncul secara alami dan otomatis.

Selain itu, faktor dalam pertandingan beregu juga menjadi krusial, mulai dari tekanan yang memengaruhi performa hingga susunan pemain lawan yang kerap berubah. Anthony mencontohkan tim bulu tangkis Prancis, dengan Christo Popov dan Toma Junior Popov bisa tampil di sektor tunggal maupun ganda, sehingga persiapan yang terlalu spesifik justru berisiko tidak efektif.

Pemain peringkat ke-46 dunia ini menegaskan pentingnya kesiapan mental tanpa terjebak dalam berpikir berlebihan. Ia menyatakan persiapan dilakukan setiap hari, termasuk mengantisipasi skenario terburuk, semisal misalnya saat menghadapi tim bulu tangkis Prancis, ketika partai tunggal ketiga bisa saja dimainkan lebih awal dan tim tertinggal 0-2. Menurutnya, tanpa kesiapan mental terhadap situasi seperti itu, pemain berisiko terkejut saat pertandingan berlangsung.

Yang membuat skuad Indonesia sangat menarik adalah perpaduan antara pemain berpengalaman dan pemain muda yang mereka miliki. Pemain-pemain muda berbakat seperti Alwi, Ubed, Raymond Indra, dan Nikolaus Joaquin, berbaur dengan pemain-pemain yang jauh lebih berpengalaman seperti Jonatan, Anthony, dan Fajar Alfian. Anthony menyatakan, peran para pemain senior adalah untuk memastikan para pemain muda tidak terbawa euforia berada di Piala Thomas.

"Ada Jonatan, Fajar, dan saya. Setiap hari kami mengingatkan para pemain muda untuk mengendalikan emosi, harapan, dan semangat mereka. Pemain muda cenderung menjaga semangat tetap tinggi, tetapi kita perlu menjaga keseimbangan. Kita perlu menenangkan mereka. Mereka tidak boleh terlalu bersemangat," demikian Anthony.