Jojo, sapaannya, yang tampil sebagai tunggal pertama, kalah dari Christo dengan skor 19-21, 14-21. Ia menilai, penampilannya secara keseluruhan sudah cukup baik, sembari berusaha melakukan pemulihan secepat mungkin setelah menghadapi Kunlavut Vitidsarn asal Thailand. Ia menyebut kondisi fisik secara umum baik, meski sedikit terkendala pada bagian bawah tubuh. "Tapi saya sudah melakukan yang terbaik, untuk recovery juga sangat baik," katanya melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
Di gim pertama, Jojo menyatakan sudah berupaya mengikuti ritme permainan Christo dan dapat menyamakan kedudukan, tetapi banyaknya kesalahan sendiri membuat lawan kembali termotivasi, meski ia sempat mengambil alih perolehan poin. "Disayangkan memang di gim pertama harusnya itu modal yang cukup bagus. Tapi ketika lepas, momentumnya itu yang harus dibangun lagi dan tidak mudah dengan kondisi yang ada juga," katanya.
"Selain itu, Christo juga bermain cukup baik hari ini, dari defense-nya, dari lebih sabarnya juga," tambah Jojo, yang juga menyampaikan permohonan maaf karena gagal menyumbangkan poin untuk tim Indonesia," Jojo, menambahkan.
Sementara itu, tunggal kedua Alwi Farhan kalah dari Alex Lanier melalui dua gim 16-21, 19-21 dalam tempo 53 menit. Ia berpendapat, pola permainan Lanier tidak banyak berubah, tetapi kekuatan pukulan yang besar membuatnya beberapa kali gagal mengantisipasi, sehingga lawan banyak meraih poin.
Di sisi lain, Alwi mengakui tekanan untuk meraih kemenangan cukup memengaruhi dirinya dalam pertandingan. "Dan saya lebih merasakan pressure," ungkapnya.
Rentetan kekalahan Indonesia berlanjut setelah Anthony Sinisuka Ginting gagal meredam perlawanan Toma Junior Popov, setelah bertarung tiga gim yang berakhir dengan skor 22-20, 15-21, 20-22 dalam durasi 85 menit. "Memang sudah sangat dipersiapkan pertandingan ini, maksudnya waktu dipilih jadi main di tunggal ketiga dan sudah tahu juga kurang lebih calon-calon lawannya siapa," katanya.
"Ada diskusi juga dengan tim tunggal putra untuk menambah buat insight. Karena mungkin Jonatan juga pernah lawan, yang lain mungkin pernah nonton Toma seperti apa. Jadi memang sama-sama memberikan point of view-nya masing-masing. Itu yang sudah dipersiapkan dan sebenarnya sudah cukup bisa menerapkan strategi dengan baik," Anthony, menjelaskan.
Anthony mengakui tidak memiliki banyak variasi pola permainan yang bisa diterapkan, sehingga saat Toma kembali menemukan ketenangannya, sementara ia kesulitan dan harus lebih banyak berlari mengejar bola.
Di sisi lain, ia menyebut tidak merasakan ketegangan berlebih saat masuk lapangan karena menilai peluang di sektor tunggal selalu terbuka 50-50, meski peringkat Toma yang lebih tinggi tetap menjadi tantangan yang dipikirkannya. "Tidak mau berpikir match pertama seperti apa, match kedua seperti apa. Saya mau coba challenge diri saya sendiri tadi di lapangan. Apa yang sudah dilatih di Jakarta, di training camp, apa yang sudah dipersiapkan coba buat diterapkan tanpa fokus ke skor besarnya," pungkasnya.



