Kebanggaan Marcus pada Generasi Baru

Joven Farandi/Joseph Marcellino Kyta & Marcus Fernaldi Gideon (Gideon Badminton Academy)
Joven Farandi/Joseph Marcellino Kyta & Marcus Fernaldi Gideon (Gideon Badminton Academy)
Nasional ‐ Created by EL

Bogor | Marcus Fernaldi Gideon memutuskan gantung raket sekitar dua tahun lalu. Ia meninggalkan karier profesional, tetapi tidak sepenuhnya menjauh dari olahraga pukul bulu. Mantan pemain ganda putra nomor satu dunia bersama Kevin Sanjaya Sukamuljo itu, tetap berkecimpung di dunia bulu tangkis dengan membina banyak pemain muda melalui Gideon Badminton Academy (GBA) yang didirikan bersama ayahnya, Kurniahu Tjio Kay Kie, pada 2022.

Marcus mengaku bangga melihat perkembangan akademi baru yang dibangunnya itu mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembinaan bulu tangkis nasional. "Dalam dua tahun sudah ada empat pemain kita yang masuk pelatnas. Tahun lalu dua orang, tahun ini dua orang lagi. Senang sekali melihat perkembangannya," jelasnya melalui siaran pers GBA pada Selasa (10/3) pagi.

Pria berusia 35 tahun ini kerap hadir di lapangan untuk memantau latihan para atlet, bahkan sesekali menjadi mitra tanding para pemain muda tersebut. "Kalau tidak ada kegiatan lain, saya biasanya datang setiap pagi untuk memantau latihan. Setelah itu kadang saya ikut sparring dengan mereka," tuturnya.

Selain Marcus, GBA juga menghadirkan sejumlah pemain berpengalaman untuk meningkatkan kualitas latihan atlet muda. Beberapa atlet pelatnas juga kerap datang berlatih bersama sehingga memberikan pengalaman tanding yang lebih kompetitif.

Dalam pengembangan akademi, GBA juga mulai memperkuat sektor tunggal dengan merekrut mantan pemain pelatnas, Tommy Sugiarto, sebagai pelatih. Kehadiran peraih medali perunggu Kejuaraan Dunia 2014 itu diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas pemain tunggal di akademi. "Mas Tommy sangat membantu di sektor tunggal. Baru sekitar empat bulan bergabung, tapi sudah terlihat perkembangan pemainnya, bahkan ada yang bisa ikut seleknas," kata Marcus.

Ia berharap, di masa mendatang, GBA dapat secara konsisten menyumbangkan atlet ke pelatnas. "Ke depan saya harap lebih banyak lagi yang bisa masuk pelatnas. Minimal setiap tahun ada pemain dari GBA yang bisa menyumbang untuk pelatnas," katanya.

GBA sendiri lahir dari mimpi Kurniahu, yang memiliki keinginan kuat untuk membangun fasilitas pembinaan bulu tangkis dan mencetak atlet masa depan Indonesia. Marcus mengungkapkan, awalnya ia sempat ragu untuk membangun akademi tersebut karena membutuhkan investasi yang besar. Namun, tekad Kurniahu akhirnya membuat GBA berdiri dan berkembang hingga sekarang. "Ini sebenarnya mimpi Papa. Awalnya saya sempat ragu karena biayanya besar. Tapi Papa punya tekad kuat untuk membangun tempat pembinaan bulu tangkis," ujar Marcus.

Apresiasi Atlet
GBA memberikan apresiasi kepada atlet binaannya yang berhasil menembus pelatnas PBSI Cipayung dengan mengembalikan seluruh biaya latihan yang telah dibayarkan selama dua tahun. Kebijakan ini menjadi bentuk penghargaan atas kerja keras para atlet dalam menembus level pembinaan tertinggi bulu tangkis Indonesia. 

Langkah tersebut juga diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para pemain muda lainnya di GBA untuk terus berlatih dengan tekun dan berjuang meraih prestasi hingga mampu menembus level nasional.

Apresiasi tersebut diberikan kepada Joven Farandi, atlet binaan GBA yang mengikuti program latihan secara mandiri selama dua tahun. Joven bersama rekannya, Joseph Marcellino Kyta, memastikan tempat di pelatnas setelah meraih gelar juara Seleksi Nasional (Seleknas) PBSI 2026. Dalam laga final, Joven/Marcell menang atas wakil Candra Wijaya International Badminton Center (CWIBC), Ardiola Dionilo/Raffarel Radzinski Sadad, dengan skor identik 21–19, 21–19.

Marcus, dalam acara pemberian apresiasi di Gideon Badminton Hall, Ciangsana, Bogor, Senin (9/3), mengatakan, kebijakan pengembalian biaya latihan tersebut merupakan bentuk apresiasi sekaligus dorongan motivasi bagi para atlet muda yang sedang menjalani proses pembinaan di GBA. "Ini bentuk apresiasi untuk atlet yang masuk pelatnas dari jalur biaya mandiri, bukan beasiswa. Semoga ini bisa menjadi motivasi bagi atlet-atlet lain untuk terus berlatih dan berjuang menembus pelatnas," ujar Marcus.

Ia menambahkan, sistem pembinaan di GBA memiliki pendekatan berbeda dibandingkan banyak klub besar lainnya di Indonesia. "Kami di sini mencoba mendidik semua menjadi atlet. Berbeda dengan tim lain, kami membina dari awal. Seperti Joven yang bergabung bersama kami selama dua tahun dari Bangka bisa menunjukkan perkembangan luar biasa dan akhirnya masuk pelatnas," ujar Marcus.

Menurut Marcus, langkah mengembalikan biaya latihan merupakan bagian dari komitmen GBA untuk tidak menjadikan pembinaan atlet sebagai orientasi keuntungan semata. "Mungkin awalnya kami bingung karena tidak semua yang di sini membayar. Kami punya sistem beasiswa juga dan memberikan beberapa subsidi. Kami mencoba tidak mencari untung. Kalau kami mau cari untung, tentu kami tidak akan mengembalikan uang iuran yang jumlahnya lumayan besar itu," jelasnya.

Sementara itu, Marcell adalah atlet yang sejak awal mendapatkan program beasiswa dari GBA, sehingga tidak dikenakan biaya latihan selama menjalani pembinaan. Marcell sendiri mulai bergabung di GBA sejak usia 10 tahun.

Pencapaian Joven/Marcell menambah daftar atlet binaan GBA yang berhasil menembus pelatnas PBSI dalam dua tahun terakhir. Pada tahun sebelumnya, pasangan ganda campuran Muhammad Nawaf Khoiriyansyah dan Luna Rianty Saffana juga berhasil masuk pelatnas setelah meraih prestasi pada Kejuaraan Nasional PBSI 2024 dan turnamen Sirnas Premier. Dengan demikian, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, empat atlet binaan GBA menembus pelatnas.

Acara pemberian apresiasi kepada atlet yang lolos pelatnas ini juga digelar bertepatan dengan ulang tahun Marcus serta peringatan 40 hari wafatnya Kurniahu, sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok yang menjadi penggerak utama berdirinya akademi tersebut. Melalui program pembinaan yang berkelanjutan, GBA berharap dapat terus melahirkan atlet-atlet muda berbakat yang mampu memperkuat prestasi bulu tangkis Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.