Mantan pelatih ganda putra pelatnas bulu tangkis Indonesia, Herry Iman Pierngadi, meyakini bahwa bakal ada bibit-bibit pemain nomor ganda yang lahir dari kejuaraan tersebut. Menurutnya, konsep kompetisi yang secara khusus fokus pada nomor ganda merupakan langkah tepat untuk mencetak pemain potensial yang dapat memperkuat Indonesia di masa depan.
"Saya melihat ada pemain-pemain dari kelompok ganda pemula yang tampil bagus di turnamen ini. Mereka bisa diharapkan menjadi bibit baru pemain ganda Indonesia. Turnamen seperti ini sangat tepat untuk menghadirkan pemain-pemain potensial," kata Herry melalui siaran pers YSDSC 2026, Jumat (12/6).
Pelatih yang dikenal melahirkan banyak pasangan ganda kelas dunia itu juga menilai YSDSC memiliki keunikan karena menjadi salah satu turnamen yang secara khusus mengakomodasi nomor ganda dari berbagai kelompok usia.
Lebih jauh Herry mengatakan, inisiatif yang dilakukan Candra Wijaya layak mendapat dukungan dari seluruh pemangku kepentingan bulu tangkis nasional agar terus berlanjut. "Baru Candra yang membuat turnamen seperti ini di Indonesia. Turnamen ini harus dilestarikan karena menjadi bagian penting dalam proses regenerasi pemain ganda," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan mantan pelatih ganda Indonesia, Aryono Miranat yang menilai keberadaan turnamen Yonex-Sunrise Doubles Special Championships ini turut meningkatkan kualitas persaingan antarklub, khususnya di sektor ganda. Menurut Aryono, peta kekuatan ganda usia muda saat ini semakin merata karena klub-klub memiliki kesempatan yang sama untuk mengukur hasil pembinaan melalui kompetisi yang rutin dan berjenjang. "Turnamen ini menjadi sarana untuk menguji hasil latihan yang sudah dilakukan di klub. Selain itu, ajang seperti ini juga sangat penting untuk pembinaan performa serta membangun mental bertanding para atlet muda," kata Aryono.
Keberadaan YSDSC 2026 pun dinilai bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari proses pembinaan jangka panjang. Melalui pertandingan yang kompetitif sejak usia dini, para pemain muda dapat mengasah kemampuan teknis, strategi permainan ganda, hingga mental menghadapi tekanan pertandingan.
Sementara itu dari pertandingan babak semifinal nomor ganda dewasa putra, pasangan unggulan pertama dari Daihatsu Yonex Sunrise Candra Wijaya, Ardiola Dionilo/Raffarel Radzinski Sadad menjaga asa menuju babak final dengan mengalahkan rekan satu klub, Gabriel Christopher Wintan Wijaya/Panji Ahmad Maulana 25-23, 21-22. "Lawan kami sangat bagus walau dari satu klub. Tetapi tetap memberikan perlawanan dan penampilan terbaik," ujar Raffarel.
"Sempat kehilangan konsentrasi saat gim pertama. Tapi masih bisa diantisipasi dan lebih fokus lagi," Ardiola, menimpali komentar partnernya.
Di final, Sabtu (13/6), keduanya bakal berjumpa dengan ganda putra Jaya Raya, Gerardo Rizqullah Hafidz/Jonathan Farrel Gosal, yang secara mengejutkan menumbangkan duet Mutiara Cardinal Bandung unggulan kedua, Aldi Efendi/Lutfi Afriand, dengan skor akhir 21-12, 21-19.
Sementara itu, dari nomor ganda campuran dewasa, pasangan PB Djarum, Theodorus Steven Kurniawan/Priskila Venus Elsadai, tampil maksimal dengan mengandaskan harapan kemenangan ganda unggulan pertama dari klub Kasih Jakarta Selatan, Frederico Jonathan Wijaya/Karen Aprilia, dengan skor 21-13, 21-19.
Theodorus/Priskila akan bertemu pasangan unggulan kedua asal Jaya Raya, Gerardo Rizqullah Hafidz/Salma Mufida yang harus mengeluarkan ekstra stamina untuk meraih kemenangan atas pasangan PB Djarum, Darren Aurelius/Leonora Keyla Frandrica, 15-21, 21-13, 21-16. Menghadapi partai puncak, baik Gerardo maupun Salma mengaku akan mempergunakan waktu istirahat sebaik mungkin menyusul ketatnya jadwal pertandingan di kejuaraan ini.


