"Pertama-tama puji Tuhan kita bisa bermain dengan lancar, tidak ada yang cedera. Tidak menyangka akhirnya bisa bermain di Istora. atmosfernya itu sangat berbeda dengan turnamen-turnamen yang lain," tanggap Joaquin kepada wartawan, seusai pertandingan berdurasi 66 menit tersebut.
Secara umum Joaquin menilai, mereka dengan lancar dapat menerapkan pola permainan menyerang seperti yang biasaka dilakukan. Meski sempat kehilangan fokus di akhir gim pertama, ia bersyukur mereka tetap mampu mengunci kemenangan gim tersebut. "Lalu di gim kedua, pas interval, kita sempat memimpin, tetapi sepertinya lawan mengubah pola permainannya sementara kita telah mengantisipasinya. Jadi sudah ketinggalan duluan," tuturnya.
Sementara itu, Raymond mengakui, di gim kedua mereka kehilangan fokus sehingga justru memberikan tekanan berlebih kepada mereka. Selain itu, kesalahan-kesalahan sendiri yang kerap terjadi akibat keinginan untuk menang yang terlalu besar, membuat pertandingan harus berlanjut ke gim ketiga. "Rasa pengin menangnya terlalu tinggi. Namun, di gim ketiga, kita main nothing to lose aja, nggak mau terbebani," katanya.
Gayung bersambut, Joaquin menyatakan bahwa mereka kembali saling meyakinkan satu sama lain untuk bangkit, terlebih dengan dukungan penuh masyarakat Indonesia yang hadir langsung di Istora. "Jadi kita tampil all out, tidak mau mengecewakan masyarakt Indonesia yang sudah datang ke sini," tegasnya.



