Ma/Qin akhirnya memastikan gelar juara setelah mengalahkan Liao Pin Yi/Zhang Jia Han melalui pertandingan tiga gim dengan skor 21-9, 20-22, 22-20. "Ini adalah pertandingan yang sulit dan akhirnya kami bisa juara adalah sesuatu hal yang baik apalagi kami melawan teman kami sendiri di final," ujar Xi Xiang melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
Hui Zhi mengakui, mereka kehilangan fokus pada awal gim penentuan. Namun, setelah interval, keduanya mampu bermain lebih lepas dan perlahan keluar dari tekanan, termasuk saat harus mengejar ketertinggalan, dan menutup pertandingan dengan kemenangan. "Kami banyak belajar dari pasangan-pasangan Indonesia yang kami lawan di tiga babak sebelumnya dan itu berpengaruh kepada penampilan kami hari ini," tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Xi Xiang turut menyampaikan apresiasi kepada para penonton yang memadati tribune GOR Terpadu Ahmad Yani. Meski tidak melibatkan pemain tuan rumah, menurutnya, antusiasme penonton tetap terasa sepanjang pertandingan karena setiap poin, baik yang diraih mereka maupun lawan, mendapat sambutan meriah dari bangku tribune. "Kami sangat senang bermain di sini dengan atmosfer penonton yang sangat luar biasa. Kami juga bangga akhirnya bisa menjadi juara di sini," ujarnya.
Kedua pemain juga menyampaikan sejumlah nama legenda bulu tangkis China sebagai sumber inspirasi mereka dalam perjalanan karier muda mereka. Semisal, Xi Xiang menyebut pemain ganda Zheng Si Wei sebagai idolanya. "Saya ingin seperti dia," katanya.
"Saya mengidolakan Huang Dong Ping dan Wei Ya Xin, saya ingin belajar dari mereka," Hui Zhi, menambahkan.


