"Di gim kedua dan ketiga kami bisa lebih tenang, tidak seperti gim pertama yang kami mainnya sangat panik," ujar Lin melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
Hampir senada dengan partnernya, Chia juga mengakui, mereka tampil dalam tekanan pada gim pembuka. Meski tidak menjelaskan secara pasti penyebabnya, ia menyebut ketegangan tersebut membuat permainan mereka gagal berkembang pada awal pertandingan. "Gim pertama memang sangat-sangat tegang, tapi setelah itu pelatih benar-benar mengingatkan kami untuk bermain lebih lepas di gim pertama dan kedua," ungkapnya.
Sebagai unggulan kedua, Chia/Lin tampil konsisten sepanjang turnamen berlevel BWF Tour Super 100 tersebut dengan melaju hingga semifinal tanpa kehilangan satu gim pun. Mereka secara beruntun mengalahkan pasangan tuan rumah Wahyu Agung Prasetyo/Pulung Ramadhan, wakil senegara Cheng Kai Wen/Liao Chao Pang, pasangan Singapura Eng Keat Wesley Koh/Donovan Willard Wee, serta pasangan China Chen Jun Ting/Huang Di.
Partai puncak melawan Yere/Patra pun menjadi satu-satunya pertandingan yang mengharuskan Chia/Lin berjuang hingga gim ketiga. Pertarungan sengit tersebut sekaligus menjadi laga penentu yang membawa mereka ke podium teratas. "Sangat senang bisa juara," demikian Lin.
Sementara itu, Patra tetap bersyukur ia dan Yere dapat menyelesaikan pertandingan tanpa mengalami cedera meski harus puas dengan status runner-up. Ia juga mengakui, ketenangan dan fokus mereka gagal terjaga secara konsisten sepanjang pertandingan, yang turut memengaruhi permainan pada laga penentuan gelar tersebut. "Sempat memaksakan setting di gim ketiga dan harusnya kami bisa ambil tapi kita kecolongan dari servis lawan. Sangat disayangkan," demikian Patra.
Sebelumnya, Taiwan telah lebih dahulu mengamankan satu gelar melalui nomor tunggal putra lewat Wang Po-Wei. Pemain peringkat ke-42 dunia itu menundukkan wakil China, Sun Chao, melalui kemenangan dua gim langsung 21-13, 21-19 dalam tempo 54 menit.


