Polytron Indonesia Open 2026 - Ketika Tenun NTT Bersua Bulu Tangkis

Tenun NTT hadir di Polytron Indonesia Open 2026 (Djarum Badminton)
Tenun NTT hadir di Polytron Indonesia Open 2026 (Djarum Badminton)
Indonesia Open ‐ Created by EL

Jakarta | Ada pemandangan berbeda dalam rangkaian laga empat besar Polytron Indonesia Open 2026, Sabtu (6/6), di Istora Gelora Bung Karno. Para wasit yang bertugas tampil dengan jaket khusus berornamen kain tenun khas Nusa Tenggara Timur (NTT), menghadirkan sentuhan budaya Indonesia di tengah kemeriahan turnamen bulu tangkis level tinggi tersebut.

Jaket eksklusif tersebut merupakan karya desainer muda Indonesia penuh talenta, Temma Prasetio, yang memadukan unsur fesyen modern dengan kekayaan budaya Nusantara. Melalui rancangan ini, penyelenggaraan Polytron Indonesia Open 2026 tidak hanya menjadi ajang unjuk prestasi olahraga, tetapi juga sarana untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia kepada komunitas bulu tangkis internasional yang hadir maupun menyaksikan turnamen tersebut melalui layar kaca. 

Jaket ini dirancang khusus dengan pendekatan sporty kekinian yang fungsional, tetap mempertahankan kesan profesional yang dibutuhkan oleh para wasit pada pertandingan final. Siluet dibuat tegas, tetapi tetap ringan dan nyaman untuk mendukung mobilitas tinggi selama pertandingan berlangsung.

Keunikan utama dari rancangan jaket ini terletak pada penggunaan ornamen kain tenun ATBM atau alat tenun bukan mesin khusus, yang terinspirasi dari kekayaan motif tenun khas NTT. Melalui sentuhan kreatif yang modern, motif tradisional tersebut diolah kembali dalam pendekatan yang lebih kontemporer sehingga mampu menyatu harmonis dengan desain jaket yang sporty dan dinamis. 

Meski tampil dengan nuansa yang lebih segar dan sesuai dengan atmosfer olahraga internasional, karakter serta nilai budaya yang terkandung dalam motif tenun asli tetap dipertahankan. Perpaduan tersebut menjadikan jaket ini tidak sekadar pakaian bagi para wasit di pertandingan, melainkan juga medium untuk menampilkan identitas budaya Tanah Air kepada dunia, sekaligus membuktikan bahwa warisan tradisional Nusantara dapat hadir secara relevan dan elegan di panggung olahraga modern.

Melalui karya ini, Temma ingin menyampaikan, kekayaan kain tradisional Indonesia tidak hanya bertumpu pada batik yang telah mendunia, tetapi juga tenun yang memiliki potensi besar untuk berkembang dan tampil di panggung fesyen modern internasional. Dengan mengangkat tenun ke dalam desain yang lebih kontemporer, Temma berupaya memperkenalkan warisan budaya Nusantara kepada generasi yang lebih luas sekaligus menunjukkan, kain tradisional dapat beradaptasi dengan tren masa kini tanpa kehilangan identitasnya. 

Penggunaan tenun dalam rancangan ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap para pengrajin lokal yang selama ini menjaga keberlangsungan tradisi menenun, serta menjadi bagian dari upaya pelestarian kekayaan tekstil Indonesia agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan industri fesyen global. "Desain ini adalah bentuk interpretasi saya terhadap bagaimana budaya bisa bergerak bersama zaman," ujar Temma melalui siaran persnya, terkait semangat yang diusung dalam koleksi ini

"Tenun NTT memiliki kekuatan visual dan cerita yang sangat kaya, dan saya ingin membawanya ke panggung olahraga dunia dengan cara yang relevan dan modern," Temma, menambahkan.

Kehadiran jaket khusus bagi para wasit ini diharapkan tidak hanya memperkuat identitas visual Polytron Indonesia Open 2026, tetapi juga menjadi simbol harmonisasi antara olahraga, budaya, dan industri kreatif Indonesia. Melalui panggung turnamen bulu tangkis berkelas dunia tersebut, karya ini diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat internasional sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas Indonesia memiliki daya saing dan relevansi di tingkat global.


Small Banner - Polytron Indonesia Master Super 100