Lanier memang telah membangun reputasi sebagai salah satu pemain paling tangguh di sektor tunggal putra. Reputasi tersebut kembali dibuktikannya pada partai puncak di New Delhi, India, Minggu (23/8), ketika kecepatan dan kekuatan serangannya membuat wakil Jepang, Kodai Naraoka, kesulitan mengembangkan permainan.
Lanier terus melancarkan tekanan hingga menguras tenaga Naraoka yang harus berulang kali bertahan menghadapi gempuran serangan pemain Prancis tersebut. Setelah bertarung selama 50 menit, Lanier akhirnya mengamankan kemenangan dua gim langsung dengan skor identik 21-11, 21-11 sekaligus memastikan gelar juara dunia.
"Saya merasa bangga pada diri sendiri, sekaligus merasa terhormat melihat bendera itu," ujar Lanier, dikutip dari laman Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).
"Seluruh tim telah bekerja sangat keras. Dengan memberikan performa terbaik di lapangan, saya juga turut menghormati bendera tersebut, dan saya bangga melihatnya dikibarkan," Lanier, menambahkan.
Atlet berusia 21 tahun itu menilai, permainannya berada dalam level yang sangat baik sepanjang pertandingan. Kepercayaan terhadap stamina dan kekuatan kakinya juga membuatmua leluasa meningkatkan tempo permainan pada saat yang tepat. "Kombinasi itulah yang perlu saya terapkan, meladeni reli panjang lalu mengubah tempo permainan," jelasnya.
Menurutnya, strategi tersebut efektif untuk menyulitkan Naraoka. Keberanian meladeni reli tetap penting meski pada akhirnya tidak selalu menghasilkan poin, karena menjadi bagian dalam mengembangkan permainan dalam jangka panjang. "Saya benar-benar memanfaatkan hal itu, dan sangat penting bagi saya untuk membuktikan bahwa secara fisik saya mampu meladeni permainan yang menguras tenaga. Tekad saya sangat kuat hari ini," Lanier, memaparkan.
Sebelum Lanier mengukir sejarah di nomor tunggal putra, rekan senegaranya, Gicquel/Delrue lebih dulu membawa Prancis meraih gelar juara dunia pertama di sektor ganda campuran. Pasangan tersebut sekaligus mengakhiri penantian panjang Eropa untuk kembali memiliki juara dunia di nomor tersebut. Gicquel/Delrue melampaui pencapaian mereka pada edisi sebelumnya di Paris, Prancis, ketika mereka meraih medali perunggu.
Pada final, Gicquel/Delrue menundukkan pasangan unggulan pertama asal China, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping, melalui pertarungan tiga gim 22-20, 19-21, 21-15. Mereka tampil dengan strategi yang efektif, terutama dengan membatasi pergerakan Huang di area depan net.
Gicquel/Delrue juga beberapa kali berani mengejutkan Feng melalui flick serve. Strategi tersebut mencapai puncaknya pada match point, ketika sebuah flick serve berhasil mengantarkan pasangan Prancis tersebut meraih poin penentu sekaligus menciptakan momen bersejarah bagi bulu tangkis Prancis.


