"Kami tidak tempat tes arena pertandingan karena baru sampai hari Senin dini hari dan tadi memang di gim pertama masih meraba-raba kondisi lapangan," kata Rehan melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
Lebih lanjut Rehan menyatakan, persaingan di kejuaraan dunia sulit diprediksi karena selalu ada kemungkinan tak terduga hingga menjelang pertandingan. Ia dan Gloria menjadi salah satu buktinya setelah mendapat kesempatan tampil pada menit-menit terakhir, meski sebelumnya tidak masuk dalam daftar wakil Indonesia. "Kami sebenarnya sudah tidak berharap, tapi bukan berarti tidak mau main jadi kami balik fokus latihan intens," tuturnya.
"Dan, ketika dapat kepastian hari Jumat pagi, kami langsung mempersiapkan semua. Agak terburu-buru memang, tapi kami siap," Rehan, menjelaskan.
Sementara itu, Gloria mengakui masih membutuhkan waktu pada gim pertama untuk menemukan ritme dan menyesuaikan diri dengan suasana pertandingan. Momentum kemudian berbalik ketika lawan melakukan service fault akibat delay dan sempat melakukan protes, sehingga situasi tersebut dimanfaatkan Gloria/Rehan untuk membangun momentum permainan. "Akhirnya waktu mereka terbuang dan seperti keluar dari fokusnya, sementara kami bisa lebih teguh. Selebihnya sejauh ini merasa cukup baik," jelasnya.
Atlet berpostur tinggi menjulanr itu memilih melihat kesempatan tampil tersebut dari sisi positif dan menikmatinya sebagai pengalaman yang penuh kejutan. Ia menggambarkan perjalanan mereka seperti roller coaster, mulai dari mendapat kabar berpeluang tampil, kemudian menghadapi ketidakpastian, hingga akhirnya benar-benar mendapat kesempatan bertanding di kejuaraan dunia. "Jadi, kami akan ambil hikmah baiknya dan semoga semua berjalan lancar," pungkasnya.
Di babak berikutnya, Rehan/Gloria berhadapan dengan pasangan Taiwan, Ye Hong Wei/Nicole Gonzales Chan.


