Jafar/Felisha Pasaribu menjadi wakil Indonesia pertama yang tampil pada musim kompetisi 2026. Mereka juga menjadi satu-satunya wakil "Merah Putih" yang bertanding pada hari pembuka turnamen bulu tangkis yang digelar di Axiata Arena, Kuala Lumpur tersebut.
Berdasarkan catatan head-to-head, Chen/Toh itu selalu memenangi enam pertemuan terakhir melawan Jafar/Felisha. Meski demikian, seperti dilaporkan New Straits Times pada Senin (5/1), pasangan unggulan keempat itu tidak pernah meraih kemenangan dengan mudah, karena setiap laga selalu berlangsung alot. Empat dari enam laga tersebut bahkan harus ditentukan melalui pertarungan tiga gim.
"Selalu sulit menghadapi mereka. Yang terpenting bagi kami adalah mempersiapkan diri dengan baik, menerapkan pola permainan sendiri, dan memberikan upaya maksimal. Kami akan fokus pada hal-hal yang bisa kami kendalikan, lalu melihat bagaimana performa kami saat hari pertandingan," papar Chen, yang merayakan ulang tahunnya yang ke-28 sehari sebelum bergulirnya turnamen bulu tangkis level BWF World Tour Super 1000 tersebut.
Secara umum Toh mengungkapkan, persiapan mereka sudah baik dan menegaskan bahwa tampil maksimal menjadi fokus utama, terlebih bermain di publik tuan rumah yang memadati Axiata Arena. "Karena itu, kami ingin tampil sebaik mungkin untuk mereka, tetapi tetap menikmati permainan dan tidak membebani diri dengan tekanan berlebihan," katanya.
Sementara itu, BWF World Tour Finals 2025 pada Desember lalu menjadi turnamen terakhir yang dilalui Jafar/Felisha. Pada ajang yang hanya diikuti delapan pasangan dengan performa terbaik sepanjang tahun di tiap nomor tersebut, Chen/Toh menjadi salah satu lawan yang mereka hadapi di fase penyisihan grup, dengan hasil kekalahan melalui rubber game.
Meski gagal melangkah ke fase gugur, Jafar mengaku tetap senang dapat menjalani debut pada turnamen bergengsi tersebut. Ia menilai, pengalaman tampil pada BWF WTF 2025 menjadi pelajaran berharga bagi mereka, terutama sebagai bekal dalam menghadapi turnamen-turnamen penting. "Semoga ke depannya kami bisa lebih kuat lagi," katanya melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
Adapun, Felisha menilai konsistensi menjadi evaluasi terbesar yang harus mereka benahi, terutama saat menghadapi pasangan-pasangan papan atas. Meski mampu mengimbangi permainan lawan, penurunan konsistensi di poin-poin akhir kerap membuat mereka tertinggal dan memberi keuntungan bagi lawan. "Itu yang sejak awal tahun sering terjadi setiap kali bertemu pasangan top four. Jadi, bagi saya, konsistensi di momen-momen krusial itu yang harus jadi fokus evaluasi utama," katanya.


