Persaingan Ganda Campuran Kian Sulit Diprediksi

Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu (Djarum Badminton)
Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu (Djarum Badminton)
Internasional ‐ Created by EL

Jakarta | Mantan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, menilai persaingan di sektor ganda campuran dunia saat ini jauh lebih merata dibandingkan pada masa mereka masih aktif bertanding. Keduanya sepikiran, tidak ada lagi pasangan yang benar-benar mendominasi dalam jangka waktu panjang, sehingga peluang untuk meraih gelar juara terbuka bagi lebih banyak pasangan dari berbagai negara.

"Kalau sekarang lebih nggak bisa ditebak siapa yang akan juara, semisal di turnamen Polytron Indonesia Open 2026," ujar Butet, sapaannya, di sela-sela penyelenggaraan Polytron Indonesia Open 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada akhir pekan lalu. 

Butet juga menilai peta persaingan ganda campuran dunia saat ini sulit diprediksi. Dengan hampir setiap pasangan memiliki peluang untuk mengalahkan satu sama lain, hasil pertandingan kerap ditentukan oleh performa pada hari itu. Kondisi tersebut, lanjutnya, bertolak belakang jika dibandingkan eranya, saat sejumlah pasangan unggulan mampu mendominasi dan relatif lebih konsisten berada di papan atas dunia. "Kalau di zaman kita ada Zhang Nan/Zhao Yunlei dan Xu Chen/Majin terus ada pasangan Denmark. Kalau di-mapping dulu, bisa ketahuan siapa juaranya," katanya.

Pandangan hampir serupa juga disampaikan oleh Owi, panggilan bagi Tontowi Ahmad. Peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 itu mengakui, persaingan di sektor ganda campuran saat ini semakin merata, sehingga tidak ada pasangan yang benar-benar dominan. Menurutnya, kondisi tersebut membuat setiap pertandingan berlangsung lebih kompetitif karena hampir semua pasangan memiliki peluang yang sama untuk meraih kemenangan. 

Meski demikian, Butet berpandangan, Indonesia tetap memiliki pasangan dengan potensi besar untuk bersaing di level tertinggi dunia. Namun, ia menilai pasangan tersebut masih memerlukan tambahan jam terbang dan pengalaman bertanding agar kemampuan teknis, ketenangan, serta kematangan dalam mengambil keputusan di lapangan dapat berkembang secara optimal.

Di sisi lain, menurut Butet, pasangan muda Indonesia, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, memiliki potensi besar untuk berkembang dan menjadi kekuatan baru di sektor ganda campuran. Ia menilai, keduanya merupakan pasangan yang menjanjikan dan telah menunjukkan kualitas yang baik sejak level kedua pemain masing-masing melewati masa junior hingga memasuki persaingan senior.

Meski demikian, ia mengingatkan, Jafar/Felisha masih membutuhkan lebih banyak pengalaman bertanding di level internasional. Menurutnya, tambahan jam terbang akan sangat penting untuk meningkatkan kematangan bermain, konsistensi performa, serta kemampuan menghadapi tekanan saat bersaing dengan pasangan-pasangan elite dunia. "Kalau kita lihat, mereka cukup menjanjikan. Tapi jangan cepat puas," pungkasnya.