Dejan/Felisha dijadwalkan mengawali kiprah mereka dalam waktu dekat dengan mengikuti sejumlah turnamen di Eropa. Pasangan tersebut akan bertanding di Denmark dan Prancis sebagai bagian dari proses membangun kekompakan sekaligus menguji kemampuan mereka bersama di lapangan.
Saat ditemui di Pelatnas PP PBSI, Cipayung, Jakarta, Rabu (17/9) pagi, Felisha belum dapat memberikan gambaran secara utuh mengenai perpaduan barunya bersama Dejan. Dejan sendiri baru kembali dari Pontianak, Kalimantan Barat, setelah menjuarai Polytron Pontianak International Challenge 2026 bersama Apriyani Rahayu, sehingga ia dan Felisha baru menjalani latihan bersama secara resmi selama tiga hari terakhir di Cipayung.
Sementara itu, Dejan menyatakan, kembali mendapatkan pasangan baru membuatnya kembali harus beradaptasi. Banyak hal yang perlu dibangun kembali, satu di antaranya adalah pola komunikasi, agar dapat memberikan performa terbaik saat berlaga di Eropa nanti.
Sementara itu, Dejan mengatakan perubahan pasangan membuatnya kembali harus menjalani proses adaptasi. Ia menilai masih ada sejumlah hal yang perlu dibangun bersama Felisha, salah satunya komunikasi, agar keduanya dapat menemukan pola permainan yang tepat dan tampil maksimal saat berlaga di Eropa.
"Namanya pasangan baru, semua juga pasti diadaptasikan. Nggak mungkin langsung, jadi kita lagi berproses untuk bagaimana nyamannya, mau mainnya seperti apa. Cara komunikasinya juga seperti apa, kayak gitu. Ya pasangan pada umumnya yang baru, pasti beradaptasi satu sama lain. Sejauh ini sih, gitu," jelas Dejan kepada wartawan.
Secara umum Dejan menilai, proses adaptasi bersama Felisha sejauh ini berjalan lancar. Ia juga berpendapat, Felisha memiliki ketenangan yang baik saat berada di lapangan, tetapi tetap mampu menunjukkan daya juang ketika menghadapi situasi sulit. Kemampuan mengontrol diri tersebut dinilainya menjadi modal penting untuk bersaing di level tinggi.
Dengan pengalaman Felisha bermain di nomor ganda campuran, Dejan berharap, mereka dapat segera menemukan pola permainan yang nyaman. Fokusnya kini adalah membangun kecocokan di lapangan, termasuk menentukan pola komunikasi dan permainan yang sesuai, sehingga mereka bisa memenuhi ekspektasi dan bersaing lebih kompetitif. "Karena kita satu sama lain udah tau cara main mixed itu seperti apa. Cuma mungkin kebiasaannya aja, sih. Oh mau main seperti ini, polanya mau seperti ini, kayak gitu, sih," paparnya.
Sedangkan Felisha memilih menjalani proses bersama Dejan dengan santai dan berpikir positif tanpa memasang ekspektasi berlebihan. Ia ingin fokus menikmati setiap tahapan adaptasi dan mengambil sisi positif dari perubahan pasangan, tanpa terus membandingkan perjalanan barunya dengan pengalaman bersama Jafar Hidayatullah. Menurutnya, sikap tersebut penting agar perubahan pasangan justru menjadi kesempatan untuk berkembang dan meraih hasil yang lebih baik.
Ketika ditanya mengenai kesiapan menghadapi pertandingan perdana bersama Dejan, Felisha menggunakan kata “lapar” untuk menggambarkan antusiasmenya kembali bertanding di kancah internasional. "Dalam artian. Kalau orang lagi kelaparan tuh gimana, sih? Pasti, kan, nafsu banget. Sekarang kondisinya kayak gitu, saya udah kangen banget pertandingan. Lapar juara, bukan lapar pertandingan ," katanya.
"Bagus, lah, dia optimistis, apalagi saya. Itu, sih, saya senang. Saya senang bisa main lagi di level atas. Dikasih kepercayaan lagi di sana. Apalagi, kan, sebelumnya juga saya bilang, tujuan saya cari prestasi. Apalagi ada kesempatan kayak gini, ya pastilah. Dia lapar, saya mau makan. Kita makan prestasinya," demikian Dejan.


