(Legenda) Sigit Budiarto, Berprestasi Sebagai Pemain dan Pelatih

Nasional ‐ Created by Hendri K.

Sigit Budiarto, lahir di Yogyakarta, 24 November 1975 dari pasangan Sutoto dan Naniek Sriniati. Sigit kecil dikenalkan bulutangkis oleh kedua orang tuanya. Empat saudaranya juga bermain bulutangkis. Awalnya, ia dilatih oleh ayahnya. Ketika berumur 6 tahun, Sigit bergabung dengan klub Natura di Yogyakarta.

Umur 8 tahun, Sigit mulai mengikuti pertandingan Sirkuit Jogja yang digelar 3 bulan sekali. Ia pun berpindah klub ke PB Setia Kawan, dan selanjutnya ke PB Pancing Yogyakarta. Tahun 1998, ia bergabung di klub PB Djarum dan  berlatih di GOR Kaliputu, Kudus. Namun ia hanya bertahan selama dua tahun, ia pun pulang ke Yogyakarta tahun 1991. Setahun di kampung halaman, Sigit hijrah ke sebuah klub di Solo dan berlatih sebagai pemain ganda.

Tahun 1994, ia masuk klub PB Djarum khusus ganda yang berlatih di Jakarta. Berpasangan dengan Ade Lukas, ia memenangkan banyak gelar level nasional. Prestasi ini mengantarnya mengikuti seleksi masuk Pelatnas dan diterima di Pelatnas tahun 1995.

Awal di Pelatnas , ia tidak lagi dipasangkan dengan Ade Lukas, melainkan berganti dengan Dicky Purwosugiono. Ia mulai menghiasi pentas bulutangkis Internasional. Setahun bersama Dicky, ia mampu merebut gelar juara French Open. Bulan September 1996, pelatih menduetkan Sigit dengan Candra Wijaya yang kemudian pasangan ini menjadi pasangan yang cukup melegenda.

Tahun pertama berpasangan dengan Candra, ia merebut juara Thailand Open dan US Open. Berlanjut dengan berbagai gelar ditahun 1997 antara lain, Taipei Open, Indonesia Open dan Singapore Open. Bahkan Sigit/Candra mampu menyabet gelar juara dunia dengan kemenangan yang dramatis.

Pertandingan final Kejuaraan Dunia 1997 di Glasgow, Skotlandia, sangat berkesan buat Sigit. Ia dan Candra bertemu andalan Malaysia Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock di babak final. Di game pertama, pasangan Indonesia kalah, lalu di game kedua sempat tertinggal 8-13, tetapi mampu membalikkan keadaan dan menang, 18-17. Game ketiga, duet Malaysia sudah kehabisan “bahan bakar”, dan pasangan Indonesia menang 15-7.

“Saat ketinggalan, 8-13, kita mencoba menambah keyakinan diri lagi. Apapun bisa terjadi sebelum bola jatuh ke lapangan, jadi kita kejar terus. Kemenangan ini sangat berkesan karena mampu mengumandangkan lagu Indonesia Raya, dan mengibarkan sang saka merah putih. Medali pun diserahkan langsung oleh pangeran Edward,” kenang Sigit.

Sigit/Candra memenangkan Kejuaraan Dunia pada keikutsertaannya yang pertama. Mereka pun menempati peringkat satu dunia, setelah hanya dalam delapan berpasangan.

Ajang Piala Thomas Tahun 1998 di Hong Kong merupakan saat yang berkesan lainnya. Kondisi tim Indonesia saat itu sedang resah karena ada kerusuhan di Jakarta. Sebagian pemain mengkhawatirkan keluarganya di tanah air. Namun tim Indonesia mampu melewatinya dan berhasil menjadi juara. Sigit bersama Candra yang tampil di partai keempat, berhasil menjadi penentu kemenangan Indonesa atas China, 3-1.

Cobaan berat menerpa Sigit. Di 1998 ini pula dia divonis melakukan doping.

“Saya gak merasa menggunakan doping. Berkali-kali di tes sebelumnya, hasilnya selalu negatif. Saya kaget, tidak tahu persis kandungan doping itu,” ungkap Sigit

Ia harus menerima sanksi  yang cukup berat, tidak diijinkan ikut pertandingan selama satu tahun. Sigit tidak putus asa, ia tetap akan meyakinkan bahwa anggapan tersebut salah. Tahun 1999, ia kembali terjun di perhelatan kompetisi dunia. Pertama kali masuk lapangan, ia sempat merasakan takut dan tidak percaya diri karena kalangan bulutangkis dunia mengetahui kasusnya.

Ia kembali ke lapangan dengan pasangan yang berbeda karena saat Sigit mendapat skorsing, Candra dipasangkan dengan Tony Gunawan. Ia sempat dipasangkan dengan Halim Haryanto, dan merebut juara Ducth Open tahun 2000. Pelatih ganda putra Pelatnas mengembalikan Sigit berpasangan dengan Candra tahun 2001. Pasangan ini kembali menggila dengan gelar-gelar bergengsi seperti Japan Open, Indonesia Open, Malaysia Open, Thailand Open dan medali emas SEA Games 2001.

Atas berbagai hasil pertandingan setelah kembali, Sigit/Candra kembali menempati peringkat nomor satu dunia di bulan Mei 2002. Tahun 2003, Sigit bersama Candra mampu merebut gelar juara turnamen tertua di dunia, All England. Dibabak final, mereka menaklukkan andalan Korea, Lee Dong Soo/Yoo Yong Sung.

“Ini gelar kedua paling bergengsi buat saya. Semua pemain merasa belum lengkap kalau belum juara di turnamen tertua di dunia ini,” ujar Sigit.

Di tahun 2003 ini pula, Sigit mengalami kekecewaan. Ia kalah di babak final Kejuaraan dunia di Birmingham, Inggris, dari pasangan Denmark Lars Paske/Jonas Rasmussen. Ia menderita cedera ditengah pertandingan, walaupun ia mampu menyelesaikan pertarungan tersebut. Selesai pertandingan, ia berjalan menggunakan tongkat. Sigit diharuska istirahat penuh selama 3 bulan.

Sigit masih terus mencetak banyak prestasi bersama Candra hingga tahun 2005. Mereka memenangkan beberapa turnamen terbuka di China, Swiss, Malaysia dan Singapura. Tahun 2006, Sigit kembali berpisah dengan Candra karena Candra kembali berpasangan dengan Tony Gunawan secara profesional. Sigit sendiri sempat berpasangan dengan Flandy Limpele dan meraih juara Singapore Open 2006.

Di akhir tahun 2006, ia memutuskan keluar dari Pelatnas. Selama perjalan karirnya, Sigit dikenal dengan pemain dengan pukulan-pukulan “aneh”. Sigit memiliki pergelangan tangan yang sangat kuat sehingga pukulan-pukulannya sulit diduga lawan.

Setelah pensiun sebagai pemain, ia kembali ke klub PB Djarum dan beralih profesi sebagai pelatih sektor ganda. Ia mengaku sempat merasa gugup berhadapan dengan anak didiknya dan bingung menetapkan program. Setahap demi setahap proses menjadi pelatih yang baik mampu ia lalui. Ia bahkan mengantarkan anak didiknya Arya Maulana/Edi Subaktiar mnejadi juara Asia junior dan Edi Subaktiar/Melati Daeva Oktaviani meraih juara dunia junior 2012. Beberapa pemain yang pernah dilatihnya, kini sudah menjadi andalan di Pelatnas seperti Kevin Sanjaya.

Sigit juga ikut aktif berkeliling kota, mencari pemain pemain berbakat di ajang Audisi Umum PB Djarum. Menurutnya, audisi merupakan program yang sangat baik untuk kemajuan bulutangkis Indonesia. Terbukti dengan jumlah peserta yang meningkat dari tahun ke tahun. Melalui Audisi maupun sebagai pelatih, Sigit terus berupaya mempersiapkan calon-calon penggantinya sebagai juara dunia.

 

Sumber: pbdjarum.org