Bekal tersebut kini ia bawa saat kembali berkompetisi di level nasional melalui rangkaian HYDROPLUS Sirkuit Nasional (Sirnas) A yang digelar di berbagai kota di Tanah Air. Satu di antaranya adalah HYDROPLUS Sirnas A Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026, yang menjadi kesempatan bagi Fardhan untuk menguji hasil evaluasi sekaligus menjaga konsistensi performanya.
"Pengalaman di Pontianak, ya, bagus. Pelajaran yang sangat baik buat saya, karena saya bertemu dengan pemain-pemain senior, jadi saya tahu bagaimana cara bermain dengan para pemain yang berpengelaman," jelasnya kepada Djarum Badminton, ditemui di POWR Hall Badminton, DIY, Jumat (11/9).
Pada sisi lainnya, dari penampilannya di level internasional, Fardhan mengaku mendapat banyak pelajaran, terutama terkait ketenangan dan kekuatan mental saat menghadapi pertandingan. Ia juga memperhatikan konsistensi permainan para pemain yang tampil di level tersebut, yang dinilainya menjadi aspek penting untuk terus dikembangkan dalam kariernya.
Namun, sepulang dari Pontianak, Joe langsung menghadapi tantangan lain di HYDROPLUS Sirnas A DIY 2026, yakni penerapan sistem skor baru 15x3 yang untuk pertama kalinya diuji coba PP PBSI. Format tersebut merupakan sistem skor yang akan diterapkan secara resmi oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) mulai Januari 2027. Bagi Joe, penerapan sistem skor baru itu bukan hal yang sepenuhnya asing karena ia telah memiliki pengalaman bertanding dengan format serupa.
"Ini bukan pertama kalinya saya bermain dengan sistem 15 poin. Sebelumnya, saya juga pernah bertanding dengan format tersebut pada World Junior tahun lalu. Jadi, ini menjadi pengalaman kedua dan saya tidak perlu beradaptasi dari awal lagi," ujar Joe.
Pengalaman tersebut kembali dirasakan Joe saat bertanding pada perempat final HYDROPLUS Sirnas A DIY 2026 dengan menghadapi wakil PB Djarum, Radithya Bayu Wardhana. Joe harus melalui pertarungan tiga gim, kemudian mengunci kemenangan 15-13, 10-15, 15-12 dalam waktu 38 menit.
"Di gim pertama, ketika sempat tertinggal, lawan juga terlihat sedikit kehilangan fokus. Saya mencoba memanfaatkan momen tersebut untuk mengejar dan mengambil kesempatan dari kelengahan lawan," jelas Joe.
Joe menilai sistem skor 15x3 memiliki sejumlah kelebihan, terutama dari sisi durasi pertandingan yang lebih singkat dan efisien. Format tersebut membuat pemain tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama di lapangan maupun menunggu terlalu lama sebelum kembali menjalani pertandingan berikutnya.
Di sisi lain, Joe berpendapat, durasi pertandingan yang lebih singkat juga menjadi tantangan. Pemain dituntut untuk langsung siap bertanding sejak poin-poin awal sehingga memiliki lebih sedikit waktu untuk menemukan ritme dan beradaptasi dengan kondisi permainan.
Pada semifinal, Sabtu (12/9), Joe akan menghadapi rekan satu klubnya di Exist Badminton Club, Ghaisan Haidar Tsaqib. Menghadapi pemain yang sudah saling mengenal tentu menghadirkan tantangan tersendiri karena keduanya memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Meski demikian, Joe tetap memasang target tinggi untuk melanjutkan langkahnya di Yogyakarta.
Joe menargetkan gelar juara pada HYDROPLUS Sirnas A DIY 2026. Ia berharap dapat memanfaatkan pengalaman dan evaluasi dari pertandingan-pertandingan sebelumnya untuk tampil maksimal hingga partai puncak.


