Zhafran mengakui ketegangan sudah dirasakan sejak gim pertama. Meski belum mampu tampil lepas, ia dan Raihan tetap berhasil mengamankan gim pembuka dengan permainan yang lebih terkontrol.
Memasuki gim kedua, tekanan yang dirasakan justru semakin besar. Zhafran menyebut mereka tampil lebih tegang sehingga kehilangan momentum dan harus merelakan gim tersebut kepada lawan sebelum bangkit pada gim penentuan. "Saking tegangnya, kita sampai mati-mati terus, error-error terus," tuturnya kepada Djarum Badminton.
Sementara itu, Raihan menilai kekalahan pada gim kedua tidak lepas dari banyaknya kesalahan yang mereka lakukan. Ia mengakui terlalu larut menyesali kesalahan pada satu poin sehingga kehilangan fokus untuk segera mempersiapkan diri menghadapi poin berikutnya. Kondisi tersebut membuat Andra/Delvino mampu memanfaatkan kesempatan untuk menyamakan kedudukan.
Memasuki gim penentuan, Raihan/Zhafran mendapat arahan dari pelatih untuk bermain lebih yakin dan menjaga fokus. Mereka diminta tidak terlalu banyak berpikir saat reli berlangsung serta tetap tenang dalam mengambil keputusan agar dapat mengembalikan kendali permainan. "Setelah interval gim ketiga, skornya kejar-kejaran terus. Kita tegang banget. Soalnya ini terakhir main final. Sampai tangan saya aja gemetaran terus," ungkapnya.
"Ya kita teriak aja, coba lepas ketegangan," Raihan, menambahkan.
Begitu memastikan kemenangan melalui poin terakhir, Raihan dan Zhafran langsung meluapkan kegembiraan. Selebrasi spontan mereka menjadi pelepasan atas ketegangan yang dirasakan sepanjang pertandingan, terutama setelah harus melewati pertarungan ketat hingga gim penentuan. "Makasih Mama udah berangkatin ke sini, sama pelatih yang sudah ngasih arahan dan instruksi kepada kami," ujar Raihan.
"Aku terima kasih kepada orang tua, keluarga, teman-teman yang udah dukung aku terus," kata Zhafran.


